Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Buruh Menggugat/ABM (KASBI, SBSI 1992, SPOI, SBTPI, FNPBI, PPMI, PPMI 98, SBMSK, FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI, FSPEK, SP PAR REF, FKBL Lampung, SSPA NTB, KB FAN Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT, FPBC, FBS Surabaya, PC KEP SPSI Karawang, GASPERMINDO, ALBUM Magelang, FKB Andalas), YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), PBHI, TURC, LBH Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Guru Tangerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, LBH APIK, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus Pelangi, GMS, LPM Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praksis, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), FMKJ, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), FSPI, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Repdem Jakarta, SPN, OPSI, SP LIATA, SPTN Blue Bird Grup
Links
Media
Monday, February 19, 2007
Seruan AJI Jakarta Soal 'Union Busting' di Kompas
Seruan untuk semua anggota AJI Jakarta
Soal Pemberangusan Serikat Pekerja di Harian Kompas



Teman-teman,

Kasus yang dialami Bambang Wisudo bukanlah kasus pribadi. Bukan kasus antara Bambang Wisudo melawan Suryopratomo, ataupun melawan sekelompok jajaran elit (atau yang mengelitkan diri) di Kompas. Betapapun banyaknya alibi yang mengatakan ini bukanlah pemberangusan serikat pekerja, jelas di depan mata kita, tindakan-tindakan yang dilakukan sangat bernuansa anti-serikat pekerja. Ini adalah tindakan union busting. Tindakan kriminal yang (umumnya) dilakukan manajemen untuk menekan kekuatan pekerja.

Teman-teman,

Aktor union busting bukanlah manajemen sendiri. Elemen-elemen serikat pekerja dan individu pekerja sering menjadi aktor yang lebih efektif, menjadi rekan kolaborasi manajemen dalam menekan pekerja. Tak jarang, manajemen sengaja membangun pertentangan horisontal antara pekerja. Mereka memanfaatkan persaingan karir, menjanjikan kesempatan dan fasilitas bagi yang mau berkolaborasi, seraya menekan yang kritis untuk menimbulkan efek trauma bagi mayoritas karyawan.

"Politik belah bambu" -- yang satu diinjak, satunya diangkat-- selalu diterapkan. Elemen-elemen pekerja yang kritis diinjak, elemen-elemen kolaborator diangkat. Maka, terjadilah konflik horisontal sesama pekerja.

Jika ini terjadi, maka manajemen akan tepuk tangan. Karena, kekuatan pekerja sudah tidak solid, sudah bisa dilemahkan. Solidaritas diganti dengan rivalitas. Maka, manajemen tak perlu mengotori tangannya untuk melemahkan serikat pekerja, tapi para pekerja sudah berkelahi sendiri.

Teman-teman,

AJI adalah organisasi profesi yang berwatak serikat pekerja. Visi ini sudah kita sepakati. Visi ini tertulis dalam Anggaran Dasar kita.

Sebagai organisasi yang berkarakter serikat pekerja, maka kita harus membela anggota kita, jika sedang mengalami persoalan ketenagakerjaan. Siapapun itu. Apakah itu seorang individu yang nyeleneh, atau bahkan seorang individu yang bejat sekalipun. Selama ia adalah seorang pekerja, dan hak-hak normatifnya dilanggar, kita harus membelanya.

Pembelaan AJI terhadap Bambang Wisudo adalah konsekuensi dari visi ini. Bambang Wisudo bukan saja anggota AJI, tapi pendiri AJI. Jika orang sekaliber Bambang Wisudo saja dapat dirampas hak-haknya dengan begitu saja, apalagi wartawan lainnya.

Selama ini, pengurus AJI Jakarta memiliki sikap tegas: harus membela Bambang Wisudo. kalau jurnalis yang bukan anggota AJI kita bela, apalagi Bambang Wisudo.

Teman-teman,

Kita tahu bahwa sebagai jurnalis beban kerja kita luar biasa. Sangatlah sulit untuk meluangkan waktu hadir dalam aksi-aksi pembelaan Bambang Wisudo. Tapi saya percaya, teman-teman semua berada di belakang barisan pembelaan Bambang Wisudo.

Tapi sungguh amat disayangkan, ada satu atau dua anggota AJI Jakarta yang tega menyerang dari belakang barisan. Teman tersebut begitu gencarnya mengalihkan isu serikat pekerja dengan intrik-intrik personal terhadap Bambang Wisudo. Sungguh, sikap seperti ini sangat bertentangan dengan moral solidaritas. Bahkan sikap seperti ini sudah bertentangan dengan visi AJI sebagai organisasi profesi yang berkarakter serikat pekerja.

Untung, sampai detik ini barisan AJI Jakarta tetap solid. Memang, tidak banyak anggota yang punya waktu untuk menyempatkan diri menghadiri aksi-aksi solidaritas. Tapi, saya yakin, jika ada waktu luang, teman-teman tersebut akan menghadiri. Setidak-tidaknya, saya tetap berharap agar teman-teman meluangkan waktu di lain hari.

Teman-teman,

Saya ingatkan, sebagai anggota organisasi yang berkarakter serikat pekerja, kita harus terus menguatkan solidaritas. Saya tahu, teman-teman bukan orang bodoh yang bisa dipengaruhi siapapun. Teman-teman bisa menimbang sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Namun satu hal yang perlu saya sampaikan: sangatlah tidak bermoral, jika ada anggota organisasi yang berkarakter serikat pekerja mengamini perampasan hak-hak sesama pekerja. Lebih-lebih, ia mengamini dengan mengatasnamakan karyawan yang lain, padahal isinya selalu bernuansa intrik personal.

Salam solidaritas,

Margiyono,
Sekretaris AJI Jakarta
posted by KOMPAS @ 9:42 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Previous Post
Archives
Powered by

Hit Counter
Hit Counter

Free Blogger Templates
BLOGGER

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <