Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Buruh Menggugat/ABM (KASBI, SBSI 1992, SPOI, SBTPI, FNPBI, PPMI, PPMI 98, SBMSK, FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI, FSPEK, SP PAR REF, FKBL Lampung, SSPA NTB, KB FAN Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT, FPBC, FBS Surabaya, PC KEP SPSI Karawang, GASPERMINDO, ALBUM Magelang, FKB Andalas), YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), PBHI, TURC, LBH Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Guru Tangerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, LBH APIK, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus Pelangi, GMS, LPM Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praksis, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), FMKJ, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), FSPI, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Repdem Jakarta, SPN, OPSI, SP LIATA, SPTN Blue Bird Grup
Links
Media
Thursday, December 14, 2006
Pimpinan Kompas Tidak Berani Temui Pendemo
Pimpinan Kompas Tidak Temui Pendemo
Ahmad Dani - detikcom

Jakarta- Setelah berdemo selama 1 jam lebih, puluhan pendemo dari Komite Anti Penghapusan Serikat Pekerja (Kompas) pulang dengan tangan hampa. Tidak ada satu pun pimpinan Kompas yang bersedia menemui mereka.

Tuntutan yang semula akan mereka sampaikan akhirnya diserahkan ke aparat Polsek Tanah Abang.

Di penghujung aksi demo yang digelar di depan Gedung Kelompok Kompas Gramedia (KKG), Palmerah, Senin (11/12/2006), sebetulnya sempat ada beberapa pimpinan redaksi Kompas ke luar dari gedung KKG. Namun begitu melihat 20-an pendemo, mereka kembali masuk ke dalam. Begitu melihat pimpinan Kompas balik badan, para pendemo langsung berteriak, "Hei, jangan jadi pengecut!"

Namun teriakan mereka tidak direspons, sehingga pendemo akhirnya menyampaikan tuntutan mereka kepada Polsek Tanah Abang.

Dalam surat tuntutan itu, mereka meminta antara lain, pihak Kompas membatalkan pemecatan Bambang Wisudo dan tidak menghalangi lagi bekerja. Aksi demo ini rencananya akan dilakukan slama beberapa hari. Di sela aksi itu mereka juga merencanakan mengunjungi makam pendiri Kompas, PK Otjong.

Hingga kini, pimpinan Kompas belum menjelaskan mengenai kasus pemberhentian Bambang Wisudo. Meski kasus ini sebenarnya berawal dari kasus internal, namun kasus ini telah melebar menjadi kasus hukum, karena Bambang Wisudo melaporkan masalah ini ke polisi.
posted by KOMPAS @ 3:59 AM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Previous Post
Archives
Powered by

Hit Counter
Hit Counter

Free Blogger Templates
BLOGGER

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <