Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Buruh Menggugat/ABM (KASBI, SBSI 1992, SPOI, SBTPI, FNPBI, PPMI, PPMI 98, SBMSK, FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI, FSPEK, SP PAR REF, FKBL Lampung, SSPA NTB, KB FAN Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT, FPBC, FBS Surabaya, PC KEP SPSI Karawang, GASPERMINDO, ALBUM Magelang, FKB Andalas), YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), PBHI, TURC, LBH Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Guru Tangerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, LBH APIK, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus Pelangi, GMS, LPM Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praksis, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), FMKJ, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), FSPI, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Repdem Jakarta, SPN, OPSI, SP LIATA, SPTN Blue Bird Grup
Links
Media
Wednesday, December 20, 2006
Wisudo: Masuk Disambut Baik, Keluar Disekap Satpam
Rabu, 20 Desember 2006, 14:29:49 WIB

BUNTUT PHK BAMBANG WISUDO
Masuk Disambut Manusiawi, Keluar Disekap Satpam

Laporan: Sholahudin Achmad

Jakarta, Rakyat Merdeka. Bambang Wisudo wartawan Kompas yang dipecat beberapa waktu lalu, sedih dengan kebijakan para petinggi suratkabar tersebut yang semakin melupakan nilai-nilai kemanusiaan.

"Kalau saat ini saya melawan, bukan karena saya benci Kompas. Tetapi, karena ada yang salah dengan Kompas sekarang ini," kata Wisudo yang disambut yel-yel "reformasi" oleh para pengunjuk rasa yang mendukungnya, di depan gedung Kompas-Gramedia, Jalan Palmerah Selatan Jakarta Pusat, Rabu (20/12).

Wisudo mengenang, 20 tahun silam dia datang ke gedung Kompas-Gramedia, saat masih berstatus mahasiswa Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Saat itu dia sedang mencari data untuk keperluan penyusunan skripsi S-1 nya.

"Saya sempat berdiskusi dengan penuh manusiawi dengan Satpam di kantor ini. Sejak itu saya mengimpikan untuk bekerja di kompas. Dalam hati saya berkata, inilah tempat (bekerja) yang saya impikan," kata wartawan yang sudah bekerja selama 15 tahun untuk Kompas itu.

Tapi, lanjutnya, dua pekan lalu, di tempat yang sama dia mendapat perlakuan yang sangat tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh Satpam Kompas.

"Saya digotong-gotong kayak mayat, saya disekap selama dua jam di pos Satpam. Ada apa ini dengan Kompas?" keluhnya dengan mata berkaca-kaca.

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh institusi Kompas terhadap dirinya, kata Wisudo, merupakan tindakan yang sangat berlawanan dengan falsafah yang dibangun oleh pendiri Kompas PK.Ojong dan Jacob Oetama.

"Kalau saat ini banyak yang mendukung saya, bukanlah karena pribadi saya. Siapalah saya ini," tandasnya.

Namun, para pengunjuk rasa yang datang bersamanya Rabu siang ini, yang merupakan pembaca setia Kompas, lanjut Wisudo, datang untuk mengingatkan bahwa ada yang salah dengan pengelolaan institusi ini saat ini.

"Kompas selama ini menyuarakan humanisme, demokrasi, kebebasan, tapi tindakan yang dilakukan terhadap saya justru sebaliknya," ujar Wisudo.

Oleh karenanya, Wisudo akan terus mengingatkan kepada para pembaca Kompas, bahwa ada yang salah dengan institusi ini. Dia tak akan menyerah, sebelum PHK terhadap dirinya dicabut, keputusan mutasinya dibatalkan, dan Kompas memberikan kesempatan untuk organisasi serikat pekerja berkembang di perusahaan konglomerasi pers tersebut.

"Tidak ada yang rugi bila Serikat Pekerja berkembang," tegas Koordinator Divisi Etik dan Profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu. adi
posted by KOMPAS @ 2:41 AM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Previous Post
Archives
Powered by

Hit Counter
Hit Counter

Free Blogger Templates
BLOGGER

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <