Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Buruh Menggugat/ABM (KASBI, SBSI 1992, SPOI, SBTPI, FNPBI, PPMI, PPMI 98, SBMSK, FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI, FSPEK, SP PAR REF, FKBL Lampung, SSPA NTB, KB FAN Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT, FPBC, FBS Surabaya, PC KEP SPSI Karawang, GASPERMINDO, ALBUM Magelang, FKB Andalas), YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), PBHI, TURC, LBH Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Guru Tangerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, LBH APIK, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus Pelangi, GMS, LPM Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praksis, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), FMKJ, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), FSPI, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Repdem Jakarta, SPN, OPSI, SP LIATA, SPTN Blue Bird Grup
Links
Media
Sunday, March 18, 2007
600 Orang Demo ‘Union Busting’ Kompas
Jakarta, Kompas Inside. Walau dibayangi blokade pemberitaan, 600 massa Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS) tetap tidak kapok. Mereka kembali menggelar demo di DPR dan harian Kompas, Kamis (15/3/2007) pekan lalu.

Aksi tersebut bermula sejak pukul 10.45 WIB. Dari arah kolong jembatan layang Taman Ria Senayan, massa dari Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Serang, Pandeglang yang sejak pagi berkumpul, kemudian bergerak ke Gedung DPR RI di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Puluhan korban pemberangusan serikat pekerja (union busting), seperti halnya Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas (PKK), Bambang Wisudo, terlihat ikut dalam barisan.

Para korban union busting itu terdiri dari pengurus Serikat Pekerja Blue Bird Group, Serikat Pekerja LIA Teacher Assoiaciton, dan korban pemberangusan serikat pekerja yang tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM).

Mereka kini bergabung untuk mengusung satu tema: “Tangkap dan Penjarakan Pelaku Pemberangusan Serikat Pekerja”

Di depan mobil komando, puluhan bendera serikat buruh dan organisasi mahasiswa nampak berkibar-kibar ditiup angin. Sementara, di belakang mobil komando, ratusan massa berbaris rapi sepanjang 300 meter.

Terlihat juga massa dari Serikat Guru Banten, Serikat Guru Tanggerang, dan mahasiswa Universitas Tirtayasa Banten.

Dengan diiringin lagu-lagu perjuangan, massa akhirnya tiba di Gedung DPR RI. Kordinator lapangan, Jhon dari ABM, lalu mengatur barisan sebelum memulai orasi.

Dalam orasinya, wakil-wakil serikat buruh mengecam parlemen karena nyaris tak berbuat apa-apa melihat maraknya pemberangusan serikat pekerja. Padahal keberadaan serikat pekerja sudah dijamin Undang-Undang No 21/2000.

Dan, dalam perundangan yang disahkan parlemen itu, setiap pelaku pemberangus serikat pekerja diancam hukuman penjara. Namun praktis hal itu tidak berakibat apa-apa.

"Itulah sebabnya kita, kaum buruh harus belajar berpolitik. Agar kita tidak tergantung pada anggota parlemen yang kerjanya hanya bisa memanipulasi rakyat," seru Anwar Ma’ruf, Kordinator Badan Pekerjan Nasional ABM, sebuah organisasi gabungan belasan federasi serikat buruh.

Aksi di DPR RI kemudian berakhir pukul 13.00 WIB. Sebelum mengakhiri aksi, Komite membacakan pernyataan sikap.

Dalam pernyataannya, Komite mendesak DPR RI memanggil Menaker dan Kapolri untuk dimintai pertanggungjawaban mengenai maraknya gejala pemberangusan serikat pekerja (union busting).

Komite juga mendesak DPR RI untuk menggunakan hak interpelasi kepada Presiden RI untuk kasus-kasus union busting.

Terakhir, Komite juga meminta DPR RI mengawasi proses penyelidikan dan penyidikan union busting yang sedang berlangsung di Depnaker dan Kepolisian.

Siap Mundur Asal Tommy Mundur
Setelah menggelar aksi di DPR, massa kemudian bergerak ke Gedung Harian Kompas di Jalan Palmerah Selatan No 26-28, Palmerah, Jakarta Selatan.

Dengan barisan bendera di depan mobil komando, massa kemudian bergerak bersama melawan arus lalu lintas untuk tiba di depan harian Kompas.

Kemacetan di Jalan Gelora, jalan di dekat Gedung Kompas, menjadi tak terelakkan. Massa kemudian bergerak dengan tertib sebelum tiba di depan Harian Kompas.

Massa yang marah dan bersolidaritas atas kasus pemberangusan Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas Bambang Wisudo, semula sudah bersiap-siap memaksa masuk sekaligus menduduki Gedung Kompas.

Satu truk polisi yang berjaga di depan pagar Gedung Kompas tak membuat massa buruh gentar. Namun oleh Korlap, massa yang marah berhasil ditenangkan. Massa kemudian duduk dengan tertib di depan pintu masuk Kompas dan orasi pun mulai digelar.

Dalam orasinya, para orator mengecam Suryopratomo, Pemimpin Redaksi Kompas, karena masih berkeras menolak mempekerjakan Bambang Wisudo walau Disnaker telah membatalkan pemecatan tersebut.

Menurut mereka, ini merupakan bukti bahwa telah terjadi pemberangusan serikat pekerja di harian terbesar tersebut.

Bambang Wisudo, yang diminta untuk berorasi sebelum aksi ditutup, juga menegaskan sikapnya. Dia sempat meminta maaf ke massa aksi bila ia akhirnya akan memilih menerima pesangon 20 tahun gaji yang ditawarkan manajemen Kompas.

"Tapi penerimaan saya ini pun dengan syarat: Suryopratomo juga harus mundur sebagai Pemimpin Redaksi Kompas. Bila ini tak dipenuhi, saya akan menolak pesangon. Saya rela hidup miskin dan menderita seperti kawan-kawan semua," ujar Bambang yang segera disambut aplus oleh massa.

Akhirnya, aksi berakhir pada pukul 15.10 WIB. Massa sepakat untuk melanjutkan dengan aksi yang lebih besar pada hari peringatan buruh sedunia tanggal 1 Mei depan. (jan/E5)
posted by KOMPAS @ 10:30 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Previous Post
Archives
Powered by

Hit Counter
Hit Counter

Free Blogger Templates
BLOGGER

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <