Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Buruh Menggugat/ABM (KASBI, SBSI 1992, SPOI, SBTPI, FNPBI, PPMI, PPMI 98, SBMSK, FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI, FSPEK, SP PAR REF, FKBL Lampung, SSPA NTB, KB FAN Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT, FPBC, FBS Surabaya, PC KEP SPSI Karawang, GASPERMINDO, ALBUM Magelang, FKB Andalas), YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), PBHI, TURC, LBH Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Guru Tangerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, LBH APIK, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus Pelangi, GMS, LPM Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praksis, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), FMKJ, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), FSPI, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Repdem Jakarta, SPN, OPSI, SP LIATA, SPTN Blue Bird Grup
Links
Media
Monday, January 29, 2007
Wisudo Hadiri Rapat PKK, Kompas Buat Seruan
Jakarta, Kompas Inside. Untuk kali kedua, Senin (29/1/2007) petang kemarin, Bambang Wisudo kembali menginjak Gedung Harian Kompas.

Di saat yang sama, manajemen juga memobilisir wartawan senior untuk membuat petisi wartawan Kompas untuk mengecam aksi solidaritas terhadap Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas (PKK) ini.

Wisudo hadir di Gedung Kompas setelah menerima undangan rapat PKK. Sebab, walau sudah menerima surat pemecatan secara sepihak dari Pemred Kompas Suryopratomo, Bambang Wisudo masih tercatat sebagai Sekretaris PKK. Sebuah organisasi serikat pekerja yang telah terdaftar secara resmi di Depnakertrans.

Dalam rapat itu, Bambang Wisudo datang dengan ditemani tiga orang tim litigasi Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS). Mereka adalah Jhonson Panjaitan, SH (PBHI), Sholeh Ali dan Nadya (LBH Pers).

"Saat kami masuk tidak ada yang menghalang-halangi," kata Ali saat dimintai keterangan.

Rapat sendiri berjalan aman. Rapat dimulai di ruang PKK pada pukul 16.00 dan berakhir pukul 18.30 WIB.

Seruan Wartawan Kompas
Sementara itu, manajemen Kompas kabarnya juga membuat manuver baru.

Setelah gagal memaksa pengurus serikat pekerja PKK membuat pernyataan tidak ada pemberangusan serikat pekerja di harian Kompas, kini manajemen melakukan manuver baru.

Salah satunya dengan menyatakan ke wartawan dan karyawan Kompas bahwa aksi-aksi yang dilakukan 36 organisasi yang tergabung dalam Komite bertujuan menyerang dan menghancurkan Kompas sebagai institusi.

Padahal jelas, dalam aksi-aksi yang digelar selama ini, Komite hanya mengecam sekelompok petinggi Kompas yang telah berlaku semena-mena. Namun dengan trik retorika ini, manajemen kemudian berhasil membakar beberapa wartawan senior.

Beberapa wartawan senior lalu membuat petisi berjudul "Seruan Wartawan Kompas." Lalu mereka meminta wartawan Kompas beramai-ramai menandatangani petisi tersebut.

Ironisnya, dalam surat seruan ini tercatat nama-nama seperti Maria Hartiningsih, Bre Redana, dan semacamnya.

Petisi ini menyatakan, bahwa pemecatan Bambang Wisudo merupakan masalah pribadi yang dibesar-besarkan. Bambang Wisudo juga dituduh mengklaim menjadi perwakilan karyawan dan wartawan Kompas.

Langkah ini menurut Ketua Tim Litigasi Komite, Sholeh Ali, SH, harus disesalkan. Sebab solidaritas wartawan ini membabi-buta. Dan jelas digagas oleh manajemen Kompas untuk mengkonter solidaritas dari luar.

"Sudah jelas Bambang Wisudo diangkat sebagai Sekretaris melalui surat keputusan yang ditanda-tangani Ketua PKK," kata Ali.

Menurut Ali, jelas pemecatan Bambang Wisudo terkait dengan aktivitasnya selaku aktivis Serikat Pekerja. Dalam konteks itulah ia menjadi korban kekerasan dan penyanderaan satpam sebelum menerima pemecatan tanpa prosedur dari Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo tanggal 8 Desember 2006.

"Jelas, 36 organisasi yang tergabung dalam Komite tidak bodoh. Kami tidak akan membela korban bila masalahnya cuma masalah pribadi," tegasnya.

Karena itu Sholeh menilai petisi itu hanya sebuah manuver baru dari manajemen. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mengalihkan isu. Dari isu pemberangusan aktivis serikat pekerja menjadi masalah pribadi. Trik 'kebulatan tekad' ini memang kerap dilakukan di pabrik-pabrik. (nay/E2)
posted by KOMPAS @ 8:03 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Previous Post
Archives
Powered by

Hit Counter
Hit Counter

Free Blogger Templates
BLOGGER

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <