Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Buruh Menggugat/ABM (KASBI, SBSI 1992, SPOI, SBTPI, FNPBI, PPMI, PPMI 98, SBMSK, FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI, FSPEK, SP PAR REF, FKBL Lampung, SSPA NTB, KB FAN Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT, FPBC, FBS Surabaya, PC KEP SPSI Karawang, GASPERMINDO, ALBUM Magelang, FKB Andalas), YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), PBHI, TURC, LBH Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Guru Tangerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, LBH APIK, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus Pelangi, GMS, LPM Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praksis, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), FMKJ, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), FSPI, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Repdem Jakarta, SPN, OPSI, SP LIATA, SPTN Blue Bird Grup
Links
Media
Thursday, April 5, 2007
Kompas dan Lorena Air
SUARA PEMBACA

Saya terkejut sekali melihat Harian KOMPAS minggu, tanggal 25 Maret 2007 lalu. Rubrik Urban edisi hari itu memuat satu halaman penuh Presiden Direktur Lorena Air, Eka Sari Lorena Soerbakti. Lorena Air adalah bagian dari Lorena Group yang terkenal dengan bus super eksekutifnya, Lorena. Tetapi bukan itu yang menyebabkan saya terkejut.

Saya terkejut karena KOMPAS memberi satu halaman penuh kepada pimpinan perusahaan penerbangan yang ketika tulisan itu terbit perusahaannya sedang menghadapi "dispute" dengan pihak otoritas yakni, Departemen Perhubungan. Apalagi judul yang digunakan KOMPAS ialah "Dan Lorena Pun Menyentuh Langit".

Asal tahu saja, saat tulisan tersebut muncul di KOMPAS hingga saat ini, Departemen Perhubungan sebenarnya sedang menagih janji Lorena Air untuk segera menerbangkan pesawat. Surat ijin usaha penerbangan (SIUP) yang telah Lorena kantongi akan hangus jika selama dua tahun tidak digunakan untuk menerbangkan pesawat.

Tarik ulur mengenai izin yang akan habis masa berlakunya itu sudah sering terjadi antara Lorena Air dan Departemen Perhubungan. Minggu ini saya membaca di salah satu media harian (saya berjanji akan mencari nama media dan kapan dimuatnya) bahwa Lorena Air masih kesulitan menyewa pesawat dari Air Buss di Eropa karena kondisi cuaca sedang musim dingin. Pada sisi lain, pihak otoritas pada minggu ini pula mengancam akan mencabut izin Lorena.

Namun, dengan berani Harian KOMPAS memasang judul, "Dan Lorena pun Menyentuh Langit". Coba lihat, apakah Lorena benar-benar sudah terbang dan dapat kita lihat di langit? Tidak ada. Buat yang masih memiliki akal sehat, tentu judul tersebut sangat mengganggu. Bahkan, lebih jauh lagi, tulisan ini tampaknya bertujuan membentuk citra tertentu yang bisa membodohi pembaca KOMPAS. Kecurigaan saya bisa saja salah, tetapi secara pribadi saya sangat kecewa dengan munculnya tulisan satu halaman penuh yang bias. Mengapa KOMPAS tidak menunggu sampai Lorena Air benar-benar terbang.

Kemudian, wartawan yang mewawancarai dan menulis tulisan itu tak menyebut-nyebut "dispute" antara Lorena dan Departemen Perhubungan, walau satu paragraf pun. Tentu saja sangat tidak adil bagi pembaca.

Siapakah wartawannya? Kebetulan ditulis oleh Frans Sartono dan Arbain Rambay. Mengapa di sebut kebetulan, karena saya ingin jujur kepada siapa saja yang membaca blog ini. Kedua wartawan tersebut adalah penandatangan petisi yang mengecam advokasi Komite sebagai cara-cara kaum petualang. Saya menulis komentar ini, jujur, bukan karena artikel itu ditulis oleh orang yang bermasalah dengan Komite. Tulisan itu sendiri memang mengganggu akal sehat pembaca KOMPAS.

Amri
nama dan alamat ada pada redaksi
posted by KOMPAS @ 1:42 AM  
1 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Previous Post
Archives
Powered by

Hit Counter
Hit Counter

Free Blogger Templates
BLOGGER

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <