Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Buruh Menggugat/ABM (KASBI, SBSI 1992, SPOI, SBTPI, FNPBI, PPMI, PPMI 98, SBMSK, FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI, FSPEK, SP PAR REF, FKBL Lampung, SSPA NTB, KB FAN Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT, FPBC, FBS Surabaya, PC KEP SPSI Karawang, GASPERMINDO, ALBUM Magelang, FKB Andalas), YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), PBHI, TURC, LBH Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Guru Tangerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen Indonesia, ICW, LBH APIK, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus Pelangi, GMS, LPM Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Praksis, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), FMKJ, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), FSPI, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Repdem Jakarta, SPN, OPSI, SP LIATA, SPTN Blue Bird Grup
Links
Media
Friday, January 12, 2007
Aksi Spanduk Terpanjang di HI Berakhir Mulus
Jakarta, Kompas Inside. Meski di bawah bayang-bayang teror dan intimidasi, aksi spanduk anti pemberangusan serikat pekerja Kompas sepanjang 120 meter di bunderan Hotel Indonesia (HI), hari Jumat (12/1/2007) petang, berakhir mulus.

Aksi spanduk bertema pemberangusan serikat pekerja terpanjang yang pernah digelar di kawasan HI ini sudah berjalan lima hari terhitung sejak hari Senin (8/1/2007). Aksi ini dgelar sejak pukul 10.00 WIB sampai 17.00 WIB tiap harinya.

Menurut kesaksian beberapa petugas polisi di HI yang memonitor aksi, spanduk yang dipasang Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS) ini merupakan spanduk terpanjang yang pernah dipasang di kawasan HI alias wilayah Thamrin 1. Juga merupakan aksi spanduk terlama, karena dilakukan selama lima hari berturut-turut.

"Sepengetahuan saya, belum pernah ada spanduk sepanjang ini dan terlama di pasang di HI. Paling-paling orang demo seharian di HI, lalu pulang," ujar seorang petugas reserse yang berbicara pada salah satu panitia aksi.

Pengakuan serupa juga datang dari Papi (60), seorang karyawan di Plaza Indonesia. "Spanduknya panjang sekali. Rasanya belum pernah ada spanduk sepanjang ini digelar di HI," kata petugas yang sudah terbiasa melihat demo di dekat kantornya tersebut.

Pada hari Rabu (10/1/2007) lalu, seorang pengendara mobil yang mengaku kenal dekat dengan Jakob Oetama malah sempat memarkir mobilnya di Plaza Indonesia sebelum datang jalan kaki ke lokasi aksi. Lelaki setengah baya ini mengaku sudah dua hari lewat HI dan merasa penasaran membaca isi spanduk tersebut.

"Wah, kalian berani melawan Kompas ya?," tanya bapak setengah baya ini heran saat pertama datang ke panitia aksi. Tapi setelah membaca isi selebaran dan mendapat keterangan, bapak ini segera mafhum.

Ia justru menyesalkan mengapa tindak kekerasan dan pemecatan Bambang Wisudo bisa terjadi di Harian Kompas. "Saya ini teman baik JO. Saya akan telepon dia untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi," ujarnya pada salah satu panitia aksi sebelum pergi.

Tapi pada hari Rabu pula, petugas Tramtib dari Kecamatan dan Pemrov DKI beberapa kali mengintimidasi panitia aksi untuk membubarkan diri dan menggulung spanduk. Alasannya, panitia aksi belum meminta ijin ke Dinas Pendapatan Daerah seperti lazimnya iklan spanduk. Tapi upaya intimidasi yang lucu itu tak membuat panitia aksi goyah.

Menurut kordinator lapangan aksi Odie Hudiyanto, aksi spanduk ini adalah bentuk solidaritas terhadap kekerasan dan pemecatan tanpa prosedur yang menimpa Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas, Bambang Wisudo.

Menurut Odie, aksi spanduk ini akan terus berjalan sampai pemecatan Bambang Wisudo dibatalkan. Sebab, kata Odie, pemecatan Bambang Wisudo cacat hukum dan di luar prosedur PHK yang dijamin oleh undang-undang.

"Pemecatan Bambang Wisudo juga melawan hukum, khususnya UU No 21/2000 tentang Serikat Pekerja," ujar Sekretaris Umum Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) ini. Sebab dalam UU No 21/2000 sudah ditegaskan setiap aktivis serikat pekerja dilarang dimutasi, apalagi dipecat. Tapi ini yang terjadi pada wartawan senior Kompas Bambang Wisudo.

Menurut Odie, aksi spanduk sepanjang 120 meter itu, juga merupakan upaya pemberitahuan ke publik tentang skandal pemberangusan aktivis serikat pekerja Kompas karena mempersoalkan saham kolektif milik karyawan.

Terlebih Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo yang menandatangani surat pemecatan terhadap Bambang Wisudo, ia dengar melakukan upaya serius melobi sejumlah pimpinan media massa untuk memblokade berita tentang skandal pemberangusan aktivis serikat pekerja itu.

"Aksi ini menunjukkan, ada atau tidak ada pemberitaan, kita akan terus melakukan aksi untuk mewartakan kesewenangan pimpinan Kompas terhadap buruhnya," tandas Odie. (ud/E4)
posted by KOMPAS @ 7:48 AM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
Previous Post
Archives
Powered by

Hit Counter
Hit Counter

Free Blogger Templates
BLOGGER

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <